BERANDA :

Minggu, 26 November 2017

Kakek Tua,juru kunci Gunung Agung menolak turun Gunung





Kakek tua dengan badan kurus berjalan perlahan dijalur mananjak menuju kediamanya, kawasan Gunung agung, Bali. 
Pria berusia 75 tahun itu mengajak berkeliling melihat situasi desa yangsudah kosong penghuninya. Hanya tersisa anjing dan ayam saja yang maish lalu lalang tanpa pengawas disepanjang jalan beraspal dan permukiman warga Gunung agung.

Jero Mangko Dharmo ingat betul saat letusan Gunug agung1963 menghilangkan nyawa 500 orang penghuni desa tempat tinggalnya. Aliran air panas dan debu melintas dengan cepat menyapu hunian warga. 

''Kaki saya rusak ini. Tidak ingat dulu umur berapa ( waktu kejadian). Ya begini saja sambil berdoa,''
 kata Jero mangko dharmo sambil mengperagakan telapak tangan yang disatukan membungkuk di balik pohon tua.

Warga jelas kalang kabut atas peristiwa itu. Korban jiwa tidak dapat terhindarkan. Mereka yang selamat dianggap mendapat kesempatan memperbaiki diri dari Tuhan.

Dia sendiri mengaku baru dua tahun diangkat menjadi pemangku adat. Posisinya itu didapat dengan menggantikan kakeknya yang disebutnya masih hidup hingga saat ini.

Meski status Gunung Agung masuk fase kritis alias awas, Jero Mengku Darmo bergeming ikut mengungsi bersama warga lain. Dia memilih tetap berada di kaki Gunung sambil memberi imbauan kepada masyrakat yang sembarangan datang untuk menjahui gunung. 

Sementara sisanya dihabiskan berdoa untuk meminta letusan yang tenang.

''Kakek saya, ibu saya, anak saya, sudah kesana ( mengungsi di Denpasar). Saya kukuh disini,'' jelas Jero Mangko Darmo.

Meski di bayar, Jero Mangko Darmo tidak akan mau turun gunung. Dia memilih menghabiskan akhir hayatnya di Gunung Agung, walaupun nyawanya terancam erupsi. Dia telah menentukan lokasi tempatnya menghembuskan nafas terakhir.

''174 KK di Sini sudah mengungsi. Barang-barang saya sudah di Denpasar,'' ujar Dia.

Saat berpamitan, Dia berpesan agar kalangan dari berbagai Agama mana pun dapat bersama-sama memanjatkan doa keselamtan bagi masyrakat Bali dari dampak letusan Gunung Agung. Tidakk hanya itu, tapi juga dari bencana lainnya.

''Semuanya sama dimatta Tuhan. Saya berdoa dari sini. Semuanya (semoga) ikut (berdoa),'' Jero Mangko Darmo menandaskan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar