BERANDA :

Jumat, 22 Desember 2017

128 Negara PBB Melawan dan tidak takut ancaman Donald Trump


Kata kunci : Donald Trump mengeluarkan Ultimatum: Barang siapa bernyali menjegel keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, akan mendapatkan murka sang presiden Amerika Serikat. Namun ancamanya tak mempan.

Dalam sidang darurat Majelis Umum PBB pada Kamis 21 Desember 2017, 128 dari 193 negara menetang keputusan Trumpsoal Yerusalem. Hanya sembilan negara yang mendukung, termaksud Israel. Sementara, 35 lainnya memilih abstain.

Hasil voting yang meloloskan rancangan resolusi PBB tersebut menjadi pukulan berat Donald Trump. Sejumlah sekutu terdekatnya tidak berada di pihaknya. Jepang dan Korea Selatan, misalnya, soal Yerusalem satu suara dengan Korea Utara yang musuh bebuyutan.

Bahkan sejak awal, ancamanya tak bikin gentar. Perdana mentri Selandia Baru Jacinda Ardern terang-terangan melawan. Ia tak sudi diintimidasi.

''Saya akan menekan balik, dengan menegaskan, Selandia Baru telah dan akan selalu memiliki kebijakan luar Negri yang Independen,'' kata dia.

Perempuan 37 tahun tersebut menegaskan, apapun keputusan yang diambil negaranya dalam sidang luar biasa Majelis Umum PBB pada Kamis 21 Desember 2017 waktu New York, didasarkan bukan prinsip.''Bukan bullying (perisakan) '' kata dia.

Sejak awal, PM Ardern bersikap krisis terhadap keputusan sepihak Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat kesana.'' Itu Kian membuat sulit mewujudkan perdamaian,''kata dia.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan balas memperingatkan Donald Trump menurutnya, ancaman miliarder nyentrik itu tak akan menggoyahkan sikap negaranya.

''Saya beerharap AS tak dapat apa yang dia inginkan di sidang PBB. Dunia akan memberikan pelajaran berharga untuk Amerika,'' kata Erdogan dalam pidatonya di Ankara.

Ancaman Donald Trump ditujukan pada Negara-negara penerima bantuan AS, jelang sidang luar biasa Majelis Umum PBB yang mengangendakan voting terkait revolusi yang menolak pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Draf resolusi tak menyebut nama Amerika Serikat. Namun, di sana tertulis bahwa setiap putusan terkait Yerusalem dibatalkan.

Sementara, Duta Besar Bolivia untuk PBB, Sacha Llorenty dikabarkan menghampiri Dubes  AS Nikki Haley. Ia meminta Negaranya menjadi yang pertama ditulis dalam buku hitam sang Dubes;  Sebagai penentang keputusan Donald Trump.

Sumber dari : Liputan6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar