Rabu, 06 Desember 2017

Harimau Sumatera akan dipastikan bakal Punah

Kepunahan Harimau Sumatra Semakin Memburuk

Saat ini diyakini tersisa tiggal dua lokasi populasi harimau Sumatera di alam bebas setelah survei yang dilakukan sepanjang tahun menemukan habitat hewan ini terus dihancurkan oleh industri kelapa sawit.

Para peneliti memperkirakan jumlah harimau terancam punah tersebut tinggal 618 ekor pada tahun 2012. Jumlah tersebut mengalami penurunan lebih dari 16 persen dibandingkan perkiraan tahun 2000.

Namun yang kritis, menurut laporan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications hari Rabu (6/12/2017), pembukaan hutan telah memecah populasi harimau tersebut menjadi kelompok-kelompok kecil terisolasi yang tidak akan bertahan lama.

Menurut Matthew Luskin, penulis laporan penelitian ini, dengan hanya dua kelompok popolasi yang memiliki lebih 30 harimau betina, risiko kepunahan harimau Sumatera menjadi lebih besar.

''Ada dua hutan yang masih cukup besar untuk secara mandiri menunjang kehidupan harimau dalam jangka panjang dan menengah,'' jelas Dr Luskin yang melakukan penelitian Sebagai bagian program PhD nyadi University of Calivornia,Berkeley.

''Begitu penting untuk mengurangi tingkat deforetasi dan menjamin taman nasional tersebut aman karena merupakan benteng terakhhir,''katanya.

Para peeneliti mempelajari harimau di berbagai habitat dataran rendah, montana dan habitatnya menggunakan ratusan kamera jarak jauh yang dipicu oleh gerakan.

Setiap Harimau dapat diidentifikasi dengan pola garis unik mereka yang memungkin kan para peneliti menghindari duplikas dalam perhitungan.

''Indonesia menginvestasikan banyak dan untuk membangu jalan-jalan besar di pulau-pulau utama,'' kata Dr Campbell.

''Jalan-jalan ini masuk kesana dan biasanya di belakang mereka, yang pertama adalah para pemburu. Mereka menghabiskan Harimau dan Gajah dan mungkin hewan lain yang mungkin bernilai,''ujarnya.

''Di belakang mereka seringkali para penebang selektif dan pembalak liar yang datang dan memicu kayu bernilai mahal,'' tambahnya.

Menurut Dr Campbell, status konservasi hutan tersebut keemudian dapat diturunkan setelah ditebangi, memberikan pijakan bagi Industri untuk memulai perkebunan mereka.

''Perusahaan lebih besar, lebih luas, lebih kaya yang datang. Mereka seringkali- saya coba mengatakan secara sopanterkait dengan pejabat pemerintah setempat yang menyetujui pembangunan jalan tersebut,'' katanya.

''Begitu menjadi area produksi , semuanya jadi bebas bagi perusahaan kelapa sawit,''jalasnya.

Meskipun para peneliti menemukan penurunan jumlah harimau Sumatera secara keseluruhan, mereka gembira setelah menemukan kepadatan populasi harimau telah meningkat di hutan-hutan yang tetap tak tersentuh.

''Bagi harimau, hasilnya bercampur aduk,'' kata Dr Luskin.

''Sebab kepadatan harimau meningkat seiring waktu dikawasan hutan lindung, namun total luas hutan mengalami penurunan secara mengkhawatirkan,'' jelasnya.

A tiger approaching from the front in a forest.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar