BERANDA :

Selasa, 12 Desember 2017

Uni Eropa tolak pengakuan Benjamin Netanyahu soal Yerusalem Ibu Kota Israel



kata kunci : Mentri-Mentri Luar Negri Eropa menolak keras permintaan perdana Mentri Benjamin Netanyu agar mengikuti jejak Donald Trump yang mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel.

Oposisi dari seluruh Eropa datang saat Netanyahu melakukan resmi pertama ke Uni Eropa sebagai Perdana Mentri Israel selama 22 tahun terakhir. 

Bahkan Republik Ceko, salah satu sekutu terdekat Israel, mengatakan bahwa keputusan Presiden AS itu buruk bagi upaya perdamaian. Perancis mengatakan bahwa status Yerusalem dapat ditentukan hanya dalam kesepakatan akhir tentara Israel dan Palestina.

Netanyu meminta pemeerintah Eropa untuk mendukung inisiatif perdamaian AS meskipun fakta bahwa Trump belum mengungkapkan rincian tentang hal itu. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Selasa dini hari.

Mentri luar Negri Perancis, Jeans-Yves Le Drian, menjelaskann bahwa UE tidak akan menulis cek kosong bagi rencana perdamaian Trump yang tak terlihat usai resmi mengakui Yerusalem Ibu Kota Israel.

Mereka juga mendesak Washington untuk mengungkap apa yang sedang disusun oleh Jason Greenblatt, utusan Timur Tengah Trump, dan Jared Kusner, menantu Trump dan penasihat senior terhadap Yerusalem.

''Kami telah menunggu lama apa inisiatif Amerika, dan jika tidak di umumkan maka Uni Eropa harus mengambil Inisiatif,'' kata Le Drian.

Langkah dramatis Netanyahu yang meminta Uni Eropa mengikuti kebijakan Donald Trump ini Datang setelah sekertaris jendral Hisbulah, Hassan Nasrallah mengatakan akan memperbarui fokus mereka ke Palestina.


Nasralah juga memanggil seluruh sekutu Hizbullah untuk bersatu malawan Israel. Rencananya ada ratusan ribu orang berdemonstran di Beirut meenolak rencana Trump. 

Netanyahu, yaangg bertemu dengan para Mentri Luar Negri Uni Eropa di Brussels, mengatakan bahwa laangkah Trump membuat perdamaian di Timur Tengah akan terwujud, ''karena mengakui kenyataan adalah substansi dan landasan perdamaian''.

Dia mengatakan, Semua atau sebagian besar negara Eropa telah memindahkan ke dutaan mereka ke Yerusalem dan mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel, meskipun tidak ada bukti bahwa negara Eropa sedang bersiap melakukannya.

Diplomat asal Swedia,Margot Wallstrom, Pasca pertemuan tersebut mengatakan.''Saya tidak mel;ihat bahwa Negara lain melakukan itu ( memindahkan kedutaan ) dan saya tidak berpikir ada Negara Uni Eropa yang lain melakukannya.''

Kepala kebijakan Luar Negri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengulangi komitmen blok tersebut atas solusi dua Negara, mengatakan kepada Netanyahu bahwa pihaknya akan terus mengakui Konsesus internasional mengenai Yerusalem.

''Uni Eropa akan meningkatkan upaya perdamaiannya dan mengadakan pembicaraanya kepada Persiden Palestina, Mahmoud Abbas, bulan depan,''katanya.

Diplomat AS terus berusaha mengatasi kerusakan yang di akibatkan dengan keputusan Trump usai pengakuan Yerusalem ibu kota Israel. padahal selama bertahun-tahun pihaknya telah melakukan diplomasi ala AS dan Konsensus hukum internasional.

Ditanya dalam konfrensi via telpon dengan wartawan, apakah Persiden akan berubah Pikiran, David Satterfield, Asisten seketaris Biro urusan Timur Dekat, mengatakan Tidak.

''Seperti yang saya katakan, apa yang persiden Yakin Adalah langkah yang tepat, pada saat yang tepat. Persiden juga mengatakan bahwa tindakan ini sama sekali tidak mengurangi hasilnegosiasi status akhir antara Israel dan Palestina,'' tuturnya.

Warga Palestina menyerukan kepada anggota 57 negara OKI untuk membuat pengakuan sendiri atas Yerusalem sebagai Ibu kota Palestina.

Mengikuti pertemuannya dengan sisi pada hari senin, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa langkah yang mencegah keemungkinan kesepakatan antara Israel dan Palestina adalah kontra produktif dan tidak stabil.

Negara-negara Arab mengutuk keputusan Trump atas Yerusalem pekan lalu dan berjanji untuk mendesak badan-badan Internasional untuk mengambil tindakan terhadapnya, meskipun tanpa mengumumkan tindakan konkret.

Telah terjadi kecaman yang meluas di Jerman tentang Demonstrasi anti-Israel akhir pekan lalu yang mencakup nyanyian.'' Kematian bagi Israel '' dan insiden dimana Demostran membakar bendera Israel.

Angela Merkel, Kanselir Jerman, mengatakan pada hari Senin, ''Kematian mengutuk semua jenis antisemitisme dan xenofobia dan tidak ada perselisihan, bahkan atas status Yerusalem, membenarkan tindakan semacam itu.''

Sumber dari : Liputan6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar