BERANDA :

Minggu, 24 Desember 2017

Remaja Yang Galau Berpotensi LGBT, Kata Pakar Neuropsikolog


Kata kunci : Pakar Neuropsikolog Ikhsan Gumilar menilai perilaku Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT) berawal dari seorang yang galau dari kehidupan dan orientasi seksnya.
Kebanyakan mereka menganggap dirinya memiliki kelainan.

Dia juga menilai bahwa ank-anak dan remaja adalah orang-orang yang berpotensi masuk kedalam pusaran LGBT.

''Ketika remaja itu galau dia salah masuk ke komonitas dan menilai prilaku seperti itu tidak apa-apa, karena minoritas. Kalau seperti jawabannya hampir 100 persen pasti jadi LGBT,'' ujar Iksan dalam sebuah diskusi di Kawasan Cikini Jakarta Pusat, Sabtu (23/12/2017).

Menurut dia, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP akan semangkin menambah permasalahan Negara. Pasalnya, secara eksplisit putusan tersebut dinilai telah membiarkan LGBT berkembang di Indoneesia.

''Hutang Negara itu sudah banyak dan dapat bertambah akibat masalah kesehatan (paraLGBT),''kata Ikhsan.

Ikhsan mengimbau agar komonitas-komonitas LGBT tidak menjadikan anak Indonesia untuk menjadi korban prilaku seks menyimpang tersebut. Sehingga tidak dapat menambah persoalan Negara di masa mendatang.

''Anda boleh jadi LGBT jika itu hak Anda, saya hormati karena HAM. Tapi ada beberapa puluh juta anak yang ingin hidup sehat dan normal dan itu yang saya inginkan,'' jelasnya.

Sebelumnya, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji Materi teerhadap sejumlah pasal dalam kitab Undang-Undan Pidana (KHUP) yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Adapun tiga pasal yang digugat adalah Pasal 284, Pasal 285 dan POasal 292.

''Menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,''ucap ketua majelis hakim MK Arief Hidayat
dalam sidang pleno di gedung MK, Jakarta Pusat, Kamis 14 Desember 2017.

Adapun gugutan ini diajukan oleh Guru Besar IPB Euis Sunarti bersama sejumlah pihak, yang mayoritas ibu-ibu pada 2016 lalu.

Dalam gugatannya terkait Pasal 284 KUHP, pemohon mengatakan cakupan seluruh arti kata ''Zina"
hanya terbatas bila satu pasangan atau keduanya terkait dalam hubungan pernikahan. Padahal, pasangan yang tidak terikat pernikahan juga bisa dikatakan zina. 


Adapun untuk Pasal 285 KUHP, Pemohon juga meminta perluasan makna perkosaan bukan hanya dilakukan terhadap wanita, tetapi juga kepada pria.

Kemudian Pasal 292, pemohon meminta para pelaku seks menyimpang atau dalam hal ini LGBT, diminta jangan hanya dibatasi oleh orang dewasa.

Meski demikian, Hakim MK memandang, pokok permohonan tidak beralasan menurut hukum. 

Sumber dari : liputan6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar