BERANDA :

Rabu, 13 Desember 2017

Turki dan Rusia sependapat mengenai Yerusalem, bukan Ibu Kota Israel


kata kunci : Persiden Racep Tayyip Erdogan menerima kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin di Ankara, ini merupakan pertemuan ketiga antara keduanya dalam waktu sebulan.

Pembicaraan berfokus pada Suriah, Tetapi kunjungan Putin bertepatan dengan hubungan Amerika dan Turki yang sedang Goncang, dipicu oleh pengakuan Presiden Amerika Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu kota Israel.

Kata Erdogan,'' Mengenai Yerusalem, saya mengamati bahwa kami memiliki pendapat yang sama dengan Putin, dan kami telah mencapai kesepakatan bahwa kami akan mempertahankan sikap kami dalam hal ini.'' Ini dikatakan Erdogan dalam sebuah pernyataan pers bersama dengan Putin, di mana ia menyebut Persiden Rusia itu sebagai ''kawan baiknya.''

''Keputusan Amerika untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem jauh dari membantu penyelesaian situasi di Timur Tengah,'' kata Putin.'' Tindakan ini mendestabilisasi situasi yang sudah rumit di wilayah itu.''

Dalam satu langkah yang akan menambah kegelisahan Washington atas hubungan Turki yang menghangat dengan Rusia, Persiden Turki mengumumkan pembelian Rudal Rusia yang Kontroversial akan diselesaikan akhir pekan ini. Nato sangat menetang dengan pembelian Rudal tersebut, karena tidak sesuai dengan sistim persenjataan Turki yang ada.

Dengan keputusan mereka meengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Amerika telah menjadi Mitra dalam pertumpahan darah,'' kata Erdogan

Sepanjang tahun ini, hubungan Turki-Rusia telah berkembang baik, sedangkan hubungan Amerika dan Turki semankin merenggang.


Presiden Erdogan itu dilontarkan sebelum ia mengancam akan memutuskan hubungan dengan Israel.
Pernyataan ini diungkapkan Erdogan sesaat sebelum Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Seperti dilaporkan wartawan VOA, Dorian Jones, dari Istanbul, hubungan diplomatik penuh antara Israel dan Turki baru saja pulih tahun lalu usai Washington melakukan upaya diplomatik yang gencar.

Erdogan mengatakan, setiap langkah Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan menjadi pukulan besar bagi hati nurani manusia. Dalam pidatonya diparlemen Turki, erdogan memperingatkan Konsekuensi diplomatik yang harus dihadapi Trump jika Washington tetap melanjutkan langkah itu.

''Pak Trump, Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam. Turki bisa saja memutuskan hubungan diplomatik denga Israel karena masalah ini,'' Tegas Erdogan, seperti dikutip dari VOA Indonesia.

Erdogan adalah selama ini pendukung kuat Palestina. Ia telah berbicara dengan para pemimpin Palestina dalam beberappa hari terakhir. Donald Trump melewatkan tenggat waktu untuk menandatangani sebuah perintah. Surat tersebut berisi penundaan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sejak 1995, setiap Persiden AS talah menandatangani penundaan tersebut.

Pejabat Washington mengatakan, keputusan akhir belum tercapai meengenai masalah ini.

Mentri kabinet Israel Naftali Bennett meremehkan komentar Erdogan.

''Akan selalu ada orang-orang yang mengkritik,tapi pada akhirnya, lebih baik memiliki Yerusalem yang bersatuh daripada simpati Erdogan,''katanya.

Hubungan antara Israel dan Turki diketahui pernah kandas 2010 . Saat itu, pasukan komando Israel membunuh 10 aktivis Turki yang berusaha menerobos Blokade Ekonomi Israel di Gaza.

Meski hubungan diplomatik sudah pulih kembali, kedua Negara itu semangkin sering berada pada sisi yang berlawanan di kawasan tersebut. Turki marah karena Israel mendukung referendum warga kurdi Iran telah memperkeruh hubungan dengan Israel.

Analis mengatakan, Erdogan memilih Israel daripada Washington sebagai tempat melampiaskan kemarahannya. Ini menandakan Erdogan enggan menyerang Donald Trump secara pribadi.

Walaupun sejumlah perbedaan telah mencemari hubungan AS dan Turki, yang meerupakan sekutu Nato, Erdogan menghindari konfrontasi dengan Donal Trump. Begitu pula sebaliknya, Donald Trump juga menahan diri untuk tidak secara terbukamengkritik Erdogan.

Pada September, terakhir kali kedua Pemimpin tersebut bertemu, Donald Trump menggambarkan Erdogan sebagai ''teman '' dan hubungan mereka tetap dekat.

Sumber dari : liputan6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar